IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM NOVEL KETIKA CINTA BERTASBIH

Posted by aidil sutarnas Sabtu, 09 Juni 2012 1 komentar

IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM NOVEL KETIKA CINTA BERTASBIH
KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY




SKRIPSI

Aidil Sutarnas
07132001



Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pemdidikan
Univertas Bina Darma
Palembang
2012 


SURAT PENYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya bahwa skripsi ini saya susun tanpa tindakan plagiarisme sesuai dengan peraturan yang berlaku di Universitas Bina Darma.
          Jika disuatu hari ternyata saya melakukan tindakan plagiarisme, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya dan meriman sangsi yang dijatuhkan oleh Universitas Bina Darma.




                                                                   Palembang, 6 Maret 2012

                                                                   Aidil Sutarnas
                                                                   07132001















SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS
         
Skripsi yang saya buat ini adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dan semua sumber, baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

          Nama                             : Aidil Sutarnas
          NIM                     : 07132001
          Tanda Tangan      : (                          )
          Tangal                  : 6 Maret 2012




















HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi yang ditujukan oleh
Nama                     : Aidil Sutarnas
NIM                       : 07132001
Program Studi       : Pendidikan Bahasa Indonesia
Judul                      : Implikatur percakapan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih Karya Habiburrahman El Shirazy
Ini telah berhasil dipertahankan di hadapan dewan penguji dan diterima sebagai persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada program studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Bina Darma
Menyetujui :
                                               
Pembimbing I        : Dr. Sunda Ariana, M.Pd., M.M.



Pembimbing II       : Linny Oktoviany, S.Pd.            



Penguji I                : Prof. Waspodo, M.A.Ed., Ph.D.



Penguji II               : Margareta Andriani, M.Pd. 

Ditetapkan di         : Palembang
Tnggal                   : 6 Maret 2012
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Bina Darma

Prof. Waspodo, M.A.Ed., Ph.D.







HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK
Sebagai sevitas akademik Universitas Bina Darma, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama                               : Aidil Sutarnas
NIM                                 : 07132001
Program Studi                  : Pendidikan Bahasa Indonesia
Fakultas                           : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Bina Darma Hak bebas royalty Non-eksklusif (Noneklusive Royalty Free Right) atas skripsi saya yang berjudul Implikatur Percakapan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih Karya Habiburrahman El-Zhirazy beserta perangkat yang ada (Jika diperlukan). Dengan Hak bebas royalty Non-eksklusif ini, Universitas Bina Darma menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data, merawat, dan mempublikasikan skripsi saya tanpa meminta izin dari saya, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak cipta.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
                                                                  
Dibuat di Palembang,  
Pada 29 Maret 2012
                                                                   Yang menyataan

                                                                  
Aidil Sutarnas
                                                                   NIM 07132001








HALAMAN PERSEMBAHAN

Sekripsi ini penulis persembahkan kepada:
1.    Kedua orang tuaku tercinta, yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan moril dan materi yang takterhingga dalam menyelesaikan studi sampai strata 1.
2.    Kakak dan adik-adikku tercinta yang selalu membuatku tetap tegar dan semangat dalam menyelesaikan studi ini, dan
3.    Sahabat-sahabatku yang senantiasa membantu dalam penyususnan  skripsi ini sampai dengan selesai dan
4.    Orang yang terkasih yang selalu memberi motifasi sampai skripsi ini selesai.












ABSTRAK

Penelitian ini berjudul Implikatur Percakapan dalam Novel “Ketika Cinta Bertasbih” Karya Habiburrahman El-Zhirazy. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu 1) Bagaimanakah implikatur percakapan dalam  Novel Ketika Cinta Bertasbih? 2) Bagaimanakah fungsi tindak tutur yang termuat dalam Novel Ketika Cinta? dan 3) Bagaimanakah prinsip-prinsip kerjasama dalam penggunaan implikatur percakapan yang terdapat dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih?

Tujuan penelitian ini yang pertama adalah untuk mendeskripsikan implikatur percakapan yang terdapat dalam novel Ketika Cinta Bertasbih, yang kedua, untuk mendeskripsikan berbagai fungsi tindak tutur yang digunakan dalam novel Ketika Cinta Bertasbih. Ketiga, untuk mendeskripsikan penyimpangan-penyimpangan terhadap prinsip kerja sama dalam penggunaan implikatur dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif. Populasi penelitian mencakup semua percakapan para tokoh yang terdapat dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih yang mengandung implikatur. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling.

Dari analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu 1) implikatur percakapan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih menggunakan berbagai tindak tuturan yaitu Tindak tutur langsung, tak langsung, literal, tidak literal, lokusi, ilokusi dan perlokusi. 2) ditemukan 12 fungsi tindak tutur yang digunakan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih, yaitu fungsi untuk menyarankan, menyatakan, menjelaskan, menolak, meminta/memohon, memerintah, member nasehat, bertanya, menawarkan, memuji, marah, dan bergurau. Fungsi yang paling dominan adalah fungsi ‘memerintah’, 3) penyimpangan terhadap prinsip kerja sama yang paling banyak ditemukan adalah penyimpangan terhadap maksim kualitas.








KATA PENGANTAR
            Syukur allhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah, dan petunjuknya penulis dapat menyelesaikan skripsi  yang berjudul “Implikatur Percakapan dalam Novel Ketika cinta Bertasbih Karya Habiburrahman El Shirazy. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat guna menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar akademik Sarjana Pendidikan (S.Pd,) pada Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia.
Selama penyusunan skripsi ini, peneliti banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu kami sepantasnya mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada :
1.      Prof. Ir. H. Bochari Rachman, M.Sc., selaku Rektor Universitas Bina Darma Palembang.
2.      Prof. Waspodo, M.A.Ed., Ph.D. Selaku Dekan Universitas Bina Darma Palembang.
3.      Margareta Andriani, M.Pd. Selaku Ketua Program Studi Pendidikan bahasa Indonesia Universitas Bina Darma Palembang.
4.      Dr. Sunda Ariana, M.Pd., M.M. Selaku Dosen Pembimbing 1.
5.      Linny Oktoviany, S.Pd. Selaku Dosen Pembimbing 2.
6.      Kedua Orangtua kami dan Saudara kami yang telah memberikan semangat baik berupa moral, spiritual, maupun materi.
7.      Rekan – rekan mahasiswa Universitas Bina Darma Palembang yang telah membantu terselesainya skripsi ini.

           
Peneliti menyadari betul bahwa di dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan-kekurangan oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan sekripsi ini.
            Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin

                                                                                    Palembang,    Maret 2012

                                                                                    Aidil Sutarnas














DAFTAR ISI

                                                                                                                                    Halaman
Halaman Judul ......................................................................................................... ......      i
Surat Pernyataan…………………………………………………………………………………           ii
Halaman Pernyataan Orisinalitas………………………………………………………………..         iii
Halaman Pengesahan................................................................................................ ......      iv
Halaman Pernyataan ............................................................................................... ......     v
Halaman Persembahan…………………………………………………………………………   vi
Abstrak ..................................................................................................................... ......     vii
Kata Pengantar ........................................................................................................ ......     viii
Daftar Isi................................................................................................................... ......     x
Latar Belakang Penulis............................................................................................. ......     xii

BAB  1 PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang .................................................................................................. ........    1
1.2.   Masalah Penelitian ............................................................................................ ........    3
1.3.   Tujuan Penelitian............................................................................................... ........    3
1.4.   Manfaat Penelitian ............................................................................................ ........    4

BAB   II  TINJAUAN PUSTAKA
2.1   Implikatur Percakapan ....................................................................................... ........    5
2.2.  Tindak Tutur ...................................................................................................... ........    11
2.3.  Prinsip Kerja Sama............................................................................................. ........    25
BAB   III  METODOLOGI
3.1.   Metode Penelitian ............................................................................................. ........  30
3.2.   Sumber Penelitian ............................................................................................. ........  30 
3.3.   Teknik Pengumpulan Data................................................................................. ........  31
3.4    Teknik Analisis Data ........................................................................................ ........  31
3.5.   Langkah-langkah Penelitian .............................................................................. ........  32
3.6     Waktu Penelitian............................................................................................ ...........  33

BAB  IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.   Analisis Tidak Tutur yang bersifat Implikatur dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih       ........  37
4.2.   Analisis fungsi tindak tutur dalam Novel  Ketika Cinta Bertasbih..................... ........  38
      4.2.1.  Tindak tutur langsung- tak langsung.......................................................... ........  39
      4.2.2.  Tindak tutur Literal -tidak Literal............................................................... ........  43
      4.2.3   Tindak Tutur Lokusi, Ilokusi dan Perlokusi………………………………………….. 46
4.3  Analisis Penyimpangan Prinsip Kerja Sama Dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih…………. 50

BAB  V  PENUTUP
5.1.   Kesimpulan ...................................................................................................... ........  54
5.2.   Saran ................................................................................................................ ........  54

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... ........  55
LAMPIRAN.............................................................................................................. ........  56     








BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Masalah
            Sastra merupakan gambaran kehidupan yang dituangkan melalui media tulis. Terdapat hubungan yang erat antara sastra dengan kehidupan, karena fungsi sosial sastra adalah bagaimana ia melibatkan dirinya di tengah kehidupan masyarakat (Semi, 1989:59) dalam achmadadieb.wordpress,com
 Sebagaimana pendapat Damono, (2002: 1) dalam dhanydamopolii.wordpress.com. bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan itu sebagai suatu kenyataan social yang menyangkut hubungan masyarakat dengan orang perseorangan, antar manusia dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang. Bagaimana pun juga peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang menjadi bahan.
            Sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat (Damono, 1984:1) dalam teguhwirwan.blogdetik.com.. Menurut bentuk atau subjek, karya sastra mungkin memiliki jenis yang berbeda-beda salah satunya adalah  narasi (sebuah karya prosa, seperti novel atau cerita pendek),(teguhwirwan.blogdetik.com.)
Sebagai karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif, biasanya dalam bentuk cerita dan merupakan bentuk sastra yang paling populer di dunia. Tidak heran jika karya sastra yang satu ini paling banyak dicetak dan beredar, lantaran daya komunitasnya yang luas pada masyarakat (Joko Sumardjo Drs). Pada umumnya, di dalam sebuah novel memuat tentang problem kehidupan masyarakat, yang digambarkan oleh pengarang tokoh dan penokohan serta setting yang sengaja dipilih pengarang untuk mewakili idenya dalam gambarannya terhadap pandangan dalam kehidupan yang dialami dan diapresiasikan ke dalam bentuk tulisan. Di dalam penyampaiannya  pengarang sering menyampaikan cerita atau pesan secara implisit atau tersirat. Yang disebut Implikatur.
            Suatu hasil penerjemahan dapat dianggap berhasil apabila pesan, pikiran, gagasan, dan konsep yang ada dalam bahasa sumber dapat disampaikan ke dalam bahasa sasaran secara utuh. Hal ini akan sulit dilakukan karena adanya perbedaan pada sistem bahasa dan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Seorang penerjemah yang baik tidak hanya harus dapat mengatasi perbedaan sistem bahasa dan budaya, tetapi ia juga harus dapat menangkap pesan implisit atau amanat yang ada di bahasa sumber dan menyampaikannya kembali ke dalam bahasa sasaran. Hal ini menjadi penting karena keutuhan suatu teks sedikit banyak dipengaruhi oleh adanya pesan atau makna implisit yang terdapat di dalamnya. (Achmadadieb.wordpress.com.)
Untuk dapat menangkap pesan implisit dengan baik, diperlukan kemampuan untuk mengenali berbagai macam makna dan cara-cara menerjemahkannya. Di dalam teks, ada kalanya makna tidak disampaikan secara eksplisit. Makna-makna yang seperti ini disebut dengan makna implisit atau tersirat. (Achmadadieb.wordpress.com. diakses 2 Desember 2011)
Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy adalah salah satu karya terbaik di Indonesia,  tentu banyak yang bisa digalih dari Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy ini. sebagai novel yang mempunyai nialai estetik yang berkualiatas. tentu banyak menganadung makna Implisit atau tersirat yang digunakan pengarang dalam penyampaian cerita  Novel Ketika Cinta Bertasbih. Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik untuk mengkaji lebih  dalam makna implikatur dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy.

1.2. Rumusan Masalah
            Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu
1)      Bagaimanakah implikatur percakapan dalam  Novel Ketika Cinta Bertasbih?
2)      Bagaimanakah fungsi tindak tutur yang termuat dalam Novel Ketika Cinta?
3)      Bagaimanakah prinsip-prinsip kerjasama dalam penggunaan implikatur percakapan yang terdapat dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih?
1.3.Tujuan Penelitian
1)      Untuk mendeskripsikan implikatur percakapan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih.
2)      Untuk mendeskripsikan fungsi tindak tutur yang digunakan dalam  Novel Ketika Cinta Bertasbih.
3)      Untuk mendeskripsikan prinsip-prinsip kerja sama dalam penggunaan implikatur percakapan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih.
.







 1.4.Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat teoritis maupun praktis. Manfaat teoretis yang diharapkan adalah sebagai bahan pertimbangan dalam kajian pragmatik, khususnya yang berkaitan dengan implikatur.  Manfaat  praktisnya Sebagai berikut.
1).  Bagi Siswa penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan untuk memahami berbagai makna tuturan.
2). Bagi  guru bahasa Indonesia Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan guru bahasa Indonesia sebagai salah satu alternatif bahan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya dalam pembelajaran memahami maksud sebuah tuturan. Bagi penyusunan bahan ajar  bahasa Indonesia   hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif bahan acuan dalam penyusunan bahan ajar. Materi bahan ajar dapat menggunakan hasil penelitian Novel Ketika Cinta Bertasbih. Misalnya dialog tokoh dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih.
3). Bagi penelitian selanjutnya  hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternasi bahan informasi bagi penelitian-penelitian selanjutnya di bidang pragmatik, khususnya dalam kajian implikatur.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Implikatur Percakapan
2.1.1 Pengertian Implikatur
            Implikatur adalah ujaran atau pertanyaan yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapakan. Pemahaman terhadap implikatur akan lebih mudah jika penulis/penutur (O1) dan pembaca/lawan tutur (O2) telah berbagi pengalaman. Pengalaman dan pengetahuan yang dimaksud disini adalah pengetahuan dan pengalaman tentang berbagai konteks tuturan yang melingkupi kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh penulis (Wijana dan Rohmadi, 2009: 227)
Istilah implikatur diantonimikan dengan istilah eksplikatur. Secara sederhana implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh yang tersurat (eksplikatur). Implikatur dimaksudkan sebagai suatu ujaran yang menyiratkan suatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Menggunakan implikatur dalam percakapan berarti menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Grice (1975:43) menjelaskan bahwa implikatur mencakup beberapa pengembangan teori hubungan antara ekspresi, makna tuturan, makna penutur, dan implikasi suatu tuturan (guru-umarbakri.blogspot.com)
Contoh: Seorang tamu baru saja masuk ke ruang tamu dan berkata “udara panas sekali”. Pernyataan itu mempunyai bermacam-macam makna yang diimplikasikan, sebagai berikut
 (1) meminta kepada tuan rumah untuk berbicara di teras rumah.
(2) meminta kepada tuan rumah air es atau air dingin.
(3) meminta kepada tuan rumah untuk membuka jendela atau pintu sehingga udara ruang      menjadi sejuk.
(4) meminta izin untuk membuka sebagian kancing baju.
(5) meminta kepada tuan rumah untuk menyalakan ac-nya atau kipas angin.
(6) memi nta kepada tuan rumah untuk mematikan lampu yang sangat terang.
         Keenam makna tidak langsung tersebut dinamakan makna implikasi/tersirat, sedangkan makna yang tersurat (literal) disebut eksplikatur. Makna yang tersurat adalah “menginformasikan bahwa keadaan (siang ini) sangat panas”.
Gunarwan (dalam Rustono, 1999:89 via guru-umarbakri.blogspot.com) menegaskan adanya tiga hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan implikatur, yaitu (1) implikatur bukan merupakan bagian dari tuturan, (2) implikatur bukanlah akibat logis tuturan, (3) sebuah tuturan memungkinkan memiliki lebih dari satu implikatur, dan itu bergantung pada konteksnya
Leech (1993:269) menyatakan bahwa implikatur digunakan agar pernyataan yang disampaikan itu lebih santun. Contohnya seperti pernyataan berikut ini.
“Pembangunan masjid kita sampai hari ini sudah mencapai tahap kedua, tepatnya 2 tahun 2 bulan. Namun sampai saat ini keramik yang sudah kita pesan belum dipasang juga. Saudara-saudara, lihatlah ke atas, langit-langit masjid ini belum sepenuhnya selesai. Untuk itu malam yang penuh barokah ini kita bertekat untuk menuntaskan semuanya. Alhamdulillah Bapak Wali Kota Malang malam ini juga hadir dalam upaya pembinaan mental spiritual warga Kota Malang”.
            Implikatur memberikan makna yang berkebalikan dengan eksplikaturnya. Menurut Stubbs (1983:210) dalam guru-umarbakri.blogspot.com implikatur bentuk ini meskipun maknanya berkebalikan tetapi tidak menimbulkan pertentangan logika.
Contoh:
Seorang ibu melihat anaknya memanjat pohon, kemudian mengatakan kepada anaknya “Ayo, naik lebih tinggi lagi. Ayo, naik sampai puncak, ayo teruskan...” Ujaran tersebut tidak dimaksudkan untuk menyuruh anaknya agar memanjat lebih tinggi lagi, tetapi sebaliknya `menyuruh anaknya turun, karena memanjat pohon itu berbahaya, dapat berakibat jatuh dari pohon`, dan seterusnya.
            Grice (1995) dalam Wijana P, Rohmadi M (2009;37) dalam artikelnya yang bejudul Logic and Conversation mengemukakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan preposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan yang bersangkutan. Preposisi yang diimplikasikan itu disebut implikatur (implicature). Karena implikatur bukan merupakan bagian tuturan yang mengimplikasikannya, hubungan kedua proposisi itu bukan merupakan konsekwensi mutlak (necessary consequence). Untuk jelasnya dapat diperhatikan wacana (80) dan (81) berikut:
(71)      + Ali sekarang memelihara kucing
            - Hati-hati menyimpan daging
(72       + Ani di mana, Ton?
            - Tati di rumah Wawan.
Tuturan (-) dalam (80) bukan merupakan bagian dari tuturan (+). Tuturan (+) muncul akibat inferansi yang didasari oleh latar belakangpengetahuan tentang kucing dengan segala sifatnya. Adapun salah satu sifatnya adalah senang makan daginng. Demikian pula, tuturan (-) dalam (81) bukan merupakan dari tuturan (+). Tuturan (-) muncul akibat inferensi yang didasari latar belakang pengetahuan tentang Ani. Ani adalah teman akrab Tati. Kalau tati disana, tentu Ani ada pula di sana.
Teori implikatur dikemukakan Grice sebagai jalan keluar untuk menjelaskan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik. Berkaitan dengan itu, Levinson (1987) menyatakan bahwa: (1) Teori implikatur dapat memberikan penjelasan fungsional atas fakta-fakta kenahasaan yang tidak terjangkau oleh teori linguistik (struktural). (2) Teori implikatur memberikan penjelasan eksplisit adanya perbedaan antara apa yang diucapkan secara lahiriah dengan apa yang dimaksudkan oleh suatu ujaran dan pemakai bahasa pun memahaminya. (3) Teori implikatur dapat menyederhanakan deskripsi semantik hubungan antarklausa yang berbeda konjungsinya. (4) Teori implikatur dapat menerangkan berbagai macam gejala kebahasaan yang secara lahiriah tampak tidak berkaitan atau bahkan berlawanan, tetapi ternyata berhubungan
2.1.2 Jenis-jenis Implikatur
Dalam teorinya, Grice membedakan tiga macam implikatur, yaitu implikatur konvensional, implikatur nonkonvensional, dan pranggapan.
Grice (1975: 45), bahwa implikatur dibedakan menjadi dua, yaitu (a) implikatur konvensional, dan (2) implikatur nonkonvensional. Implikatur konvensional adalah implikatur yang diperoleh dari makna kata, bukan dari pelanggaran prinsip percakapan. Adapun implikatur nonkonvensional adalah implikatur yang diperoleh dari fungsi pragmatis yang tersirat dalam suatu percakapan.
Cotoh implikatur konvensional:
“Matroji orang Madura sehingga dia pemberani.”
            Implikasi tuturan tersebut adalah bahwa keberanian Matroji karena dia orang Madura. Apabila matroji bukan orang Madura, tentu saja tuturan tersebut tidak berimplikasi bahwa keberanian Matroji karena ia orang Madura.
Contoh implikatur nonkonvensional:
“Dia sekarang sudah mapan”
            Implikatur nonkonvensional tersebut adalah pada waktu sebelumnya, dia kehidupannya serba tidak menentu, baik penghasilan, perumahan, pekerjaan, dan sejenisnya.
            Grice membedakan lagi secara dikotomis implikatur percakapan, yaitu (1) implikatur percakapan khusus, dan (2) implikatur percakapan umum. Implikatur percakapan khusus adalah implikatur yang kemunculannya memerlukan konteks khusus. Adapun implikatur percakapan umum adalah implikatur yang kehadirannya di dalam percakapan tidak memerlukan konteks khusus.
Contoh implikatur percakapan khusus:
“Kucing itu kelihatan girang sekali”.
Konteks khususnya:
a. Mungkin kucing itu makan bandeng presto.
b. Di mana bandeng presto itu disimpan?
Contoh implikatur percakapan umum:
“Saya berkenalan dengan rektor Unigo”
(Sebelumnya saya tidak pernah berkenalan dengan rektor Unigo)

2.1.3 Ciri-Ciri Implikatur
Grice (1991; guru-umarbakri.blogspot.com) merumuskan adanya lima ciri implikatur percakapan.
A.     Dalam keadaan tertentu, implikatur percakapan dapat dibatalkan baik dengan cara eksplisit maupun dengan cara kontekstual.
B.     Ketidakterpisahan antara implikatur percakapan dengan cara mengatakan sesuatu. Biasanya tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk mengatakan sesuatu itu sehingga orang menggunakan tuturan bermuatan implikatur percakapan untuk menyampaikannya.
C.     Implikatur percakapan mempersyaratkan makna konvensional dari kalimat yang digunakan, tetapi isi implikatur percakapan tidak masuk dalam makna konvensional kalimat.
D.    Kebenaran isi implikatur percakapan tidak bergantung pada apa yang dikatakan, tetapi dapat diperhitungkan dari bagaimana tindakan mengatakan apa yang dikatakan.
E.      Implikatur percakapan tidak dapat diberi penjelasan spesifik yang pasti sifatnya.
2.1.4 Peranggapan
            Menurut Hidayat (2001: 256) peranggapan merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Kalau latar berarti upaya mendukung pendapat dengan jalan member latar belakang, makna peranggapan adalah upaya mendukung pendapat dengan memberikan premis yang dipercaya kebenarannya. Peranggapan hadir dengan pernyataan yang dipandang terpercaya sehingga tidak perlu dipertanyakan.

2.2 Tindak Tutur
2.2.1 Pengengertian Tindak Tutur
            Tindak tutur adalah produk atau hasil dari sebuah kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari dari komunikasi linguistik yang dapat berwujud pernyataan, perintah, Tanya, atau yang lainnya. (Searle, 19; dalam Suwito, 1983: 33 Dalam Winjana dan rohmadi, 2009: 195).
2.2.2 Jenis-Jenis Tindak Tutur
2.2.2.1 Tindak Tutur Langsung
            Tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang dibentuk oleh pemfungsian secara konvensional modus-modus kalimat tertentu, seperti modus kalimat berita untuk member tahu, kalimat Tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh/merintah secara langsung (Wijana dan Rohmadi P, 2009: 195)
2.2.2.1.1   Kalimat Berita
            Kalimat berita adalah kaliamat yang berpungsi untuk memberi tahukan sesuatu/hal seperti yang dinyatakan dalam kalimat berikut
1.      Soal begunan rumah liar “latar belakangnya perlu diperhatikan” Rahayu, karyawan swasta.
“kalau saya amati jumlah perumahan liar dari waktu kewaktu semakin bertambah. Saat ini jumlahnya sangat banyak dan sangat mendesak untuk untuk segera ditertibkan. Padahal daerah pemukiman liar tersebut lokasinya memiliki tingkat resiko yang tinggi, karena mayoritas berada di daerah yang  rawan banjir”.(RWSN/9 April 1998/008) dalam Wijana dan Rohmadi P (2009 :196)
            Tuturan penulis (O1) pada wacana (1) merupan tuturan kalimat langsung yang menggunakan modus kalimat berita. Kalimat-kalimat pada wacana (1) bermaksud untuk memberitahukan atau memberitakan tentang merebaknya bangunan rumah liar di daerah solo khususnya. Penulis (O1) ingin memberitahukan kepada pembaca (O2) bahwa keberadaan rumah liar yang semakin mejangkiti kota Solo sangat perlu untuk segera ditertibkan, karena bangunan rumah liar tersebut berada di daerah yang rawan banjir. Berita pada wacana (1) ditandai dengan penanda lingual “padahal daerah pemukiman liar tersebut lokasinya memiliki tingkat resiko yang tinggi, karena mayoritas berada di daerah yang rawan banjir”.
            Penulis (O1) berharap dengan berita atau informasi yag diberitakan kepada pembaca (O2) tentang merebaknya perumahan lliar di kota Solo akan membuat mengerti semua pihak. Informasi penulis (O1) ini akan menjadi fakta untuk merencanakan penertiban rumah liar tersebut bagi pemerintah.
2.2.2.1.2 Kalimat Tanya
            Kalimat Tanya adalah kalimat yang berfunsi untuk menanyakan sesuatu/hal yang sesuai dengan apa yang terkandung dalam suatu suatu kalimat. (Wijana dan Rohmadi P, 2009: 197). Berikut ini akan dikemukakan berapa contoh data yang merupakan kalimat langsung bermodus kaliamat tanya.
2.      Soal misteri oranng hilang “Diculik ? itu tak berperikemanusiaan” Edi Joko, 18, siswa SMU TP.
“Pada hal setahu saya, mahasiswa itu melakukan demo untuk kepentingan rakyat juga. Tapi kok aparat keamanan perlakukan begit ya?” (RWSNS/17 April 1998/013) dalam Wijana dan Rohmadi P (2009 :197)
3.      Soal kenaikan tarif listrik “Mungkin harus pakai senthir lagi” Nurcahyo,  mahasiswa PTS.
“bagaimana sebenarnyasih para petinggi PLN di pusat antara member pernyataan di media masa dan realitasnya kok beda?” (RWSNS/10 Juni 1998/068) dalam Wijana dan Rohmadi P (2009 :197)
            Tuturan-tuturan kaliamat (2) dan (3) adalah tindak tutur langsung yang menggunakan modus kalimat Tanya. Kedua kalimat di atas mengandung makssud untuk menanyakan sesuatu seperti yang terknadung pada kalimat tersebut. Data (2) adalah tuturan penulis (O1) yang menanyakan kepada pemerintah sehubungan dengan banyaknya aktivis yang hilang dan diduga diculik oleh aparat keamanan. Pertanyaan penulis (O1) tersebut ditandai dengan kalimat “ Tapi aparat keamanan perlakuannya begitu ya?”.
2.2.2.1.3        Kalimat Perintah
      Kalimat  perintah adalah kalimat yang berfungsi untuk memrintah/menyuruh lawan bicara tentang sesuatu/hal seperti yang yang terkandung dalam kalimat tersebut. (Wijana dan Rohmadi P, 2009 :198). Sebagai contoh akan dikemukakan beberapa data yang merupakankalimat langsung yang menggunakan modus kalimat perntah.
4.      Soal dialog mahasiswa dengan presiden “Harus ingat sopan santun” Bimo Ardani, 16, Siswa SMU Muhammadiyah I.
“kalau ada tuntutan untuk melakukan dialog antara mahasiswa dengan presiden, tentu harus diusahakan terpeuhi”. (RWSNS/6 April 1998/004) dalam Wijana dan Rohmadi P,( 2009 :199).
            Tuturan kaliamat (4) adalah tuturan penuls (O1) yang menggunakan modus kalimat perintah. Perintah yang ditanyatakan penulis dalam tuturannya adalah perintah agar tuntutan mahasiswa untuk berdialog dengan presiden dipenuhi. Perintah penulis (O1) tersebut sesuai dengan apa yang terkandung pada kalimat yang dituturkan “Kalau ada tuntutan untuk melakukan dialog antara mahasiswa dengan presiden, tentu harus diusahakan terpenuhi”.
2.2.2.2  Tindak Tutur Tak Langsung
     Tindak tutur tak langsung adalah tindak tutur untuk memerintah seseorang melakukan sesuatu secara tidak langsung, dengan menggunakan modus kalimat berita dan kalimat Tanya (Wijana dan Rohmadi, 2009 :200). Tindak tutur ini dimaksudkan agar orang yang diperintah (O2) tidak merasa kalau diperintah. Sebagai contoh akan dikemukakan data yang merupakan tindak tutur tak langsung dengan modus kalimat berita dan Tanya.
2.2.2.2.1      Kalimat Berita
            Kalimat berita dalam tindak tutur tak langsung, selain berfungsi untuk memberitahukan sesuatu, sekaligus dapat berfungsi untuk memberitahukan sesuatu secara tidak langsung. Sebagai contoh kalimat berikut ini:
(7) Soal Zaenak tolak mobil timor “Kalau untuk dinas, apa salahnya dipakai” Adib Sudibyo, 45, warga Kadipiro, banjarsari.
        “Daripada mmenggunakan mobil dinas dengan merk yang berasal dari luar negeri, ya mending menggunakan merk sendiri” (RWSNS/6 Mei 1998/029) dalam Wijana dan Rohmadi P,( 2009 :201)
Tuturan pada kalimat (7) merupakan kalimat berita, akan tetapi selain berfungsi untuk memberitahukan informasi, sekaligus berfungsi untuk memerintahkan sesuatu secara tersirat/tidak langsung. Kalimat (7) adalah tuturan kalimat tidak langsung yang menggunakan modus kalimat berita. Kalimat (7) selain berfungsi untuk memberitahukan masalah penolakan mobil timor yang diberikan kepada Pak Zaenal, penulis (O1) juga bermaksud untuk menyuruh pembaca (O2) khususnya Pak Zaenal agar menggunakan mobil timor. Karena dengan penggunaan mobil tersebut pembaca (O2) khususnya Pak Zaenal telah menykseskan program nasyonal, yaitu mencintai dan menggunakan produk dalam negeri (wijana dan Rahmadi P, 2009: 201;202)
2.2.2.2.2      Kalimat Tanya
            Menurut Wijana dan Rahmadi P, (2009: 203) bahwa kalimat Tanya dalam tindak tutur tak langsung selain berfungsi untuk menanyakan sesuatu, sekaligus dapat befungsi untuk memerintahkan sesuatu secara taklangsung kepada lawan tutur (O2). Hal itu bertujuan untuk memperhalus perintah kepada lawan tutur , agar tidak merasa tersinggung dengan perintah yang diberikan. Sebagai contoh perhatikan kalimat berikut ini:
10. Soal pengelolaan sekaten oleh kraton “Keuntungannya kembalikan kepada warga” Kasim, 36, anggota TNI AD, warga Solo.
      “Yang pertama-tama saya mungkin ingin bertanya lebih dahulu, apakah kraton mampu jika mengelolasendiri?” (RWSNS/8 Juni 1998/063)
Tuturan pada kalimat (10) adalah tuturan penulis (O1) yang menggunakan modus kalimat Tanya. Kalimat diatas bukan sekedar untuk bertanya, akan tetapi secara tak langsung menyiratkan perintah kepada pembaca (O2). Kalimat (10) tersebut bukan semata-mata untuk bertanya “ apakah kraton mampu jika mengelola sendiri?”. Pertanyaan tersebut dilontarkan penulis (O1) kepada pembaca (O2) khususnya pihak kraton, dikarenakan berdasarkan pengetahuan penulis (O1) selama ini pesta sekaten dikelolah oleh Pemda.




2.2.2.3 Tindak Tutur Literal-tidak Literal
2.2.2.3.1  Tindak Tutur Literal
            Menurut Wijana dan Rohnadi P, (2009: 205) adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang digunakannya. Sebagai contoh tindak tutur literal, perhatiakan wacana berikut ini.
12. Soal bangunan liar “Latar belakangnya perlu diperhatikan” Dhien, warga Timuran.
“ Menurut saya keberadaan runah liar sangat mengganggu keindaha kota Solo.” (RWSNS/9 Apriln1998/009).
2.2.2.3.2     Tindak Tutur Tidak Literal
            Tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang mempunyai maksud tidak sama dengan kata-kata yang digunakannya.( Wijana dan Rohnadi P, 2009: 206). Sebagai contoh tindak tutur tidak literal dalam RWSNS adalah sebagai berikut.
15. Soal bentrokan aparat denngan mahasiswa “ wah medeni tenan kok mas” Sunarji, 40, warga Kentingan.
“ Saya kira, mahasiswa tidak akan ngamuk kalau aparat tidak ngerasi mereka seperti itu” (RWSNS/22 April 1998/017).
2.2.2.4 Tindak Tutur Lokusi, Ilokusi dan Perlokusi
            Searle didalam bukunya Speech Acts An Essay in The Philosophy of Language (1969, 23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada taiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seseorang penutur, yakni tindak lokusi, tundak Ilokusi, dan tindak perlokusi.
2.2.2.4.1     Tindak Lokusi
Tidak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur itu disebut sebagai The Act of Saying Something.
              Tindak tutur lokusi (loccutionary act). Tindak tutur ini semata-mata hanyalah tindak bicara, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan makna kata atau makna kalimat sesuai dengan makna kata itu (kamus) atau makna kalimat sesuai dengan kaidah sintaksis. Dalam tataran ini, makna kata atau kalimat yang ada tidak mempedulikan maksud dan fungsi tuturan yang merupakan perpanjangan atau perluasan makna kata itu secara harfiah. Tindak tutur lokusi merupakan aktivitas bertutur tanpa disertai tanggung jawab Penutur untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Tuturan ”saya haus” dalam cakupan lokusi dipahami secara struktural artinya bahwa Saya sebagai subjek yang merupakan kata ganti orang pertama tunggal (Pn), dan haus mengacu pada keadaan tenggorokan yang kering dan harus dibasahi, tanpa bermaksud untuk meminta minum. (Wijana, 1996) mengatagorikan tindak tutur loku-si sebagai tindak tutur langsung.

2.2.2.4.2     Tindak Ilokusi
              Austin (1962:10) mengatakan bahwa ilokusi adalah ujaran yang mempunyai kekuatan tertentu (konvensional), seperti: menginformasikan, memberi perintah, mengingatkan, dan sebagainya. Dengan kata lain, tindak ilokusi adalah tindak dalam menyatakan sesuatu. Searle (1969:24) mengatakan bahwa tindak ilokusi adalah melakukan tindak itu sendiri, seperti: menyatakan, bertanya, memberi perintah, dan memberi janji.
              Uraian di atas mengandung makna bahwa yang dipentingkan dalam tindak ilokusi adalah tanggung jawab Pn untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan isi tuturan. Dalam tindak tutur ilokusi didapatkan daya atau kekuatan (force) yang diwajibkan Pn melakukan suatu tindakan tertentu. Dengan kata lain, mengujarkan kalimat apa saja, Pn dapat dipandang telah melakukan suatu tindakan ilokusioner (Brown dan Yule, 1983). Secara konvensional yang berhubungan dengan ilokusioner adalah kekuatan yang dapat diungkapkan, seperti berjanji, meminta maaf, memperi-ngati, menasihati, dan mengagumi, seperti tampak pada tuturan berikut.
              (4) Saya tidak membawa uang.
              Tuturan (4) selain menginformasikan sesuatu, juga terkandung suatu per-mintaan maaf. Tuturan tersebut bersifat informasi apabila disampaikan oleh seorang siswa kepada petugas Kopsis yang menawarkan jajanan yang harganya cukup mahal. Siswa tersebut tidak dapat membeli karena tidak membawa uang. Akan tetapi, tuturan tersebut mengandung makna permintaan maaf dari seorang siswa kepada petugas Kopsis karena dia tidak membawa uang yang cukup untuk membeli jajan tersebut.
              Uraian di atas dapatlah ditafsirkan bahwa tindak ilokusi sukar diidentifikasi terlebih dahulu sebab harus memperhatikan siapa Pn dan siapa Mt, kapan, di mana tuturan terjadi, yang semuanya ini juga menentukan strategi atau cara menutur-kannya, baik secara verbal maupun nonverbal.
Tindak tutur ilokusioner atau ilokusi (iloccutionary act). Tindak tutur ini adalah tindak melakukan sesuatu, pada tataran ilokusi membicarakan mak-sud, fungsi, atau daya tutur yang dituturkan. Tuturan “Saya haus” yang dituturkan Pn mengacu pada makna yang lebih luas di luar yang diucapkan, yaitu penyampaian tuturan itu dimaksudkan untuk meminta minum kepada Mt atau pendengar
Austin (1962:10) mengatakan bahwa tindak ilokusi adalah ujaran yang mempunyai kekuatan tertentu (konvensional), seperti: menginformasikan, memberi perintah, mengingatkan, dan sebagainya. Tindak tutur ilokusi menuntut pihak Pn untuk melakukan suatu tindakan tertentu atas tuturan yang dituturkan sendiri. Dalam tindak tutur ini, Pn memiliki tanggung jawab untuk melakukan suatu tindakan terten-tu atas tuturan yang dituturkannya.
              Tindak ilokusi adalah makna tuturan yang melalui pemahaman konteksnya dipahami berbeda oleh Mt, artinya bahwa ilokusi sangat terkait dengan apa yang dilakukan Mt dari tindak mengatakan sesuatu yang dituturkan oleh Pn. Tindak ilokusi dapat digolongkan ke dalam tindak menyatakan sesuatu (of saying) yang berbeda dengan tindak mengatakan sesuatu (in saying).
              Ilokusi sebagai suatu tindak ujar melahirkan sejumlah makna tuturan yang erat kaitannya dengan konteks yang mengikat tuturan dalam bertutur (percakapan). Kedudukan ilokusi di dalam percakapan sangat penting karena di samping tuturan itu dituturkan, juga diperlukan sejumlah unsur yang mendukung sebuah percakapan untuk melakukan sesuatu tindakan. Makna tuturan dalam percakapan yang sangat ditentukan oleh konteks itu disebut implikatur.            
2.2.2.4.2.1 Jenis-jenis Ilokusi
              Ilokusi dapat digolong-golongkan berdasarkan isi dan fungsinya. Dari segi isi, Searle (1975) mengklasifikasikan ilokusi ke dalam lima kategori, yaitu ilokusi asertif, ilokusi direktif, ilokusi komisif, ilokusi ekspresif, dan ilokusi deklaratif.
              Pertama, ilokusi asertif (assertive), yaitu tindak tutur yang mengikat Pn pada kebenaran proposisi yang diungkapkan. Ilokusi asertif juga sering disebut represen-tatif. Contoh ilokusi ini misalnya: menyatakan, mengusulkan, mengeluh, mengemu-kakan pendapat, melaporkan, dan membual. Umumnya ilokusi jenis ini termasuk kategori bekerja sama sehingga bersifat netral, kecuali membual yang biasanya diang-gap tidak santun. Ilokusi asertif bersifat proporsional, yaitu maknanya berada dalam proposisi makna tekstual.
              Kedua, ilokusi direktif (directive), yaitu tindak tutur yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dikeluarkan oleh Mt. Menurut Leech (1983), meskipun ilokusi direktif menghasilkan efek menggiring Mt untuk melakukan suatu tindakan, namun tidak semua direktif bermakna kompetitif. Ada sebagian direk-tif yang secara intrinsik cukup santun, misalnya mengundang, tetapi ada pula seba-gian direktif yang secara intrinsik kurang santun, misalnya memerintah. Ilokusi direktif yang mempunyai potensi mengancam muka, oleh Leech digolongkan sebagai impositif (impositive). Impositif ialah wujud ilokusi kompetitif yang termasuk dalam kategori direktif, yakni ilokusi yang bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan Mt. Yang termasuk dalam jenis ilokusi ini, misalnya: memesan, memerintah, mengkritik, memohon, menuntut, dan menasihati. Ilokusi jenis ini bersifat kompetitif karena itu membutuhkan kesantunan negatif.
              Ketiga, ilokusi komisif (commisives), yaitu tindak tutur yang sedikit banyak mengikat Pn dengan suatu tindakan masa depan. Contoh ilokusi ini misalnya menjanjikan, menawarkan, dan berkaul. Ilokusi ini cenderung bersifat menyenangkan daripada bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan Pn, tetapi pada kepentingan Mt.
              Keempat, ilokusi ekspresif (expressives), yaitu tindak tutur yang berisi ung-kapan sikap psikologis Pn terhadap situasi yang tersirat dalam ilokusi. Contoh ilokusi ini, misalnya mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, memuji, menuduh, dan mengucapkan bela sungkawa. Sama halnya de-ngan komisif, ilokusi ekspresif juga cenderung bersifat menyenangkan. Berdasarkan sifatnya tersebut, secara intrinsik ilokusi ini umumnya termasuk santun, kecuali mengecam dan menuduh.
              Kelima, ilokusi deklaratif (declarations), yaitu tindak tutur yang memberi akibat tertentu pada Mt berdasarkan kesesuaian antara isi proposisi dengan realitas. Termasuk ilokusi ini misalnya pernyataan memecat, memberi nama, membaptis, mengundurkan diri, menjatuhkan hukuman, dan mengangkat pegawai. Ilokusi ini biasanya dihubungkan dengan lembaga dan wewenang atau otoritas yang dimiliki Pn. Oleh karena tidak menyangkut individu-individu, ilokusi ini hampir sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesantunan.
2.2.2.4.2.2  Fungsi Ilokusi
              Searle membuat lima kategori mengenai tindak ilokusi, yaitu: (1) asertif (assertive), (2) direktif (directive), (3) komisif (comisive), (4) ekspresif (expressive), dan deklaratif (declaration). Pertama, tindak ilokusi asertif yaitu tindak tutur yang berkaitan dengan tindak mempercayakan Mt terhadap kebenaran proposisi yang dituturkan Pn. Ilokusi asertif juga sering disebut representatif. Kedua, tindak tutur ilokusi direktif dimaksudkan untuk menghasilkan tindakan Pn terhadap pendengar. Ketiga, tindak ilokusi komisif, yaitu tindak tutur yang melibatkan Pn pada beberapa tingkatan tindakan. Keempat, tindak ilokusi ekspresif, yaitu tindak tutur yang berfungsi mengungkapkan atau menuturkan sikap Pn menuju keadaan yang diprediksikan. Kelima, tindak ilokusi deklaratif, yaitu tindak tutur yang biasa menyatakan isi proposisi dengan realitas.
              Suatu hal yang penting berkaitan dengan tindak ilokusi adalah tindak ilokusi itu berkenaan dengan pencapaian tujuan melalui pengutaraan tuturan. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan Pn terhadap Mt. Tujuan tersebut dapat berkaitan dengan pemeliharaan hubungan sosial antara Pn dan Mt, dan dapat juga berkenaan dengan tujuan informatif, yaitu berkaitan dengan penyampaian informasi kepada Mt.
              Sejalan dengan hal tersebut, Leech (1989:104) membedakan fungsi ilokusi menjadi empat macam, yaitu fungsi kompetitif (competitive), fungsi menyenangkan (convival), fungsi bekerjasama (collaborative), dan fungsi bertentangan (conflictive). Pada ilokusi kompetitif, tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan sosial, misalnya: memerintah, meminta, menuntut, dan memohon. Pada ilokusi menyenangkan, tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial, misalnya: menawarkan, mengajak, mengundang, menyapa, mengucapkan terima kasih, dan mengucapkan selamat. Pada ilokusi beker-jasama, tujuan ilokusi tidak menghiraukan tujuan sosial, misalnya: menyatakan, melapor, mengumumkan, dan mengajarkan. Pada ilokusi bertentangan, tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial, misalnya: mengancam, menuduh, menyumpahi, dan memarahi.
2.2.2.4.2.3  Ilokusi sebagai Objek Kajian Implikatur Percakapan
              Tuturan dalam percakapan menghasilkan sejumlah makna tutur, baik secara konvensional maupun secara konversasional. Tuturan konvensional adalah tuturan yang makna tuturannya dapat dipahami secara lahiriah, sesuai makna tersurat pada tuturan yang dituturkan. Tuturan konversasional adalah tuturan tersirat yang makna tuturannya dipahami melalui konteks dan kekuatan-kekuatan yang berhubungan dengan tuturan yang dituturkan. Kekuatan yang dimaksud adalah kemampuan tuturan tersebut untuk melakukan tindakan sesuatu, seperti ‘meminta, berjanji, tawaran, dsb.’ Kekuatan atau daya tutur itu disebut ilokusi yang sekaligus mengubah status tuturan konversasional yang berwujud implikatur.
2.2.2.4.3 Tindak Perlokusi
                Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force), atau efek dari yang mendengarkannya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja direaksikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimasudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan tindak perlokusi (winjana dan Rohmadi, 2009: 23). Untuk jelasnya (27) sampai dengan (29) di bawah ini:
            (27) Rumahnya jauh
            (28) Kemarin saya sangat sibuk
Seperti yang sudah dipelajari dalam tindak Ilokusi, kalimat sejenis (27) s.d (29) tidak hanya mengandung lokusi, bila kalimat (27) diutarakan oleh seseorang kepada ketua perkumpulan, maka ilokusinya adalah secara tidak langsung mengonfirmasikan bahwa orang yang dibicarakan tidak dapat terlalu aktif di dalam organisasinya. Adapun efek perlokusinya yang mungkin diharapakan agar ketuanya tidak terlalu banyak memberikan tugas kepadanya. Bila kalimat (28) diutarakan oleh seseorang yang tidak dapat menghadiri undangan rapat kepada orang yang mengundangnya, kalimat ini merupakan tindak ilokusi untuk mohon maaf, dan perlokusi (efek) yang diharapkan adalah orang yang mengundang dapat memakluminya. 

2.2.3  Penafsiran Wujud Tutur, Maksud, dan Konteks
              Tuturan selalu diwujudkan dalam konteks tertentu. Konteks memegang peran-an penting dalam menafsirkan makna tuturan karena makna tuturan dapat berbeda-beda dalam konteks yang berbeda. Atau dengan kata lain, suatu tuturan dapat bermakna lain sama sekali dari yang dimaksudkan oleh Pn karena perbedaan konteks tuturan berlangsung. Kemampuan menafsirkan makna tuturan itu dalam banyak hal bergantung kepada kemampuan Mt menghubungkan tuturan itu dengan konteks yang melingkupinya.
              Konteks tutur dibentuk oleh berbagai unsur, seperti: penutur, mitra tutur, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan saluran. Unsur-unsur itu berhubungan pula dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa, antara lain dikemukakan oleh Hymes (1972) yang tercakup dalam akronim SPEAKING. Kepanjangan SPEAKING adalah setting atau scene (latar), participants (peserta tutur), ends (hasil), act sequences (urutan tindak), key (cara), Instrumentalities (sarana), norms (norma), dan genre (jenis).
              Unsur-unsur Pn, Mt, dan benda atau situasi (keadaan, peristiwa, dan proses) yang menjadi acuan di dalam konteks tuturan dapat dirinci. Rincian dapat memberi keterangan bagi eksistensi dan hubungannya dengan Pn yang memperkenalkannya pada percakapan. Rincian dalam konteks yang perlu diketahui antara lain sebagai berikut.
              Pertama, konteks linguistik atau ko-teks (Brown dan Yule, 1996:99). Ko-teks suatu kata merupakan sekelompok kata lain yang digunakan dalam frase atau kalimat yang sama. Ko-teks mempunyai pengaruh kuat pada penafsiran makna kata yang dituturkan. Sebagai contoh, kata ‘bisa’ sebagai homonim, dalam kalimat ‘Ular itu memiliki bisa’ dan ‘Anak itu bisa mengerjakan soal itu’ memiliki makna yang bebeda. Bagaimana cara mengetahui makna yang terkandung di dalamnya? Biasanya untuk mengetahuinya berdasarkan konteks linguistik.
              Kedua, konteks fisik yang melibatkan ciri-ciri yang dimiliki oleh manusia, benda, binatang secara fisik atau ciri luar yang menyangkut milik. Apabila ada seorang pawang ular sedang memegang ular dan mengeluarkan sesuatu dari mulut ular itu sambil berkata '‘Bisanya sudah tidak berbahaya lagi”, makna kata ‘bisa’ dapat ditafsirkan dari konteksnya.
              Ketiga, yang juga berhubungan dengan konteks ialah situasi tutur (speech situation) dan peristiwa tutur (speech event). Situasi tutur meliputi siapa Pn dan Mt, konteks tuturan, dan tujuan tuturan. (Suparno, 1998:12) menyebutkan bahwa peris-tiwa tutur meliputi: percakapan, pidato, surat, doa, dan sebagainya. Dalam peristiwa tutur terdapat tindak berbahasa, yaitu apa yang sedang dilakukan Penutur ketika dia berbahasa dalam peristiwa berbahasa tertentu.
              Peranan konteks dalam penafsiran menurut Hymes adalah untuk membatasi jarak perbedaan tafsiran tuturan yang mungkin terjadi antara Pn dan Mt. Mengenai ciri-ciri konteks yang dimungkinkan relevan dengan identifikasi tipe peristiwa tutur.
2.3 Prinsip Kerja Sama
Grice mengemukakan bahwa di dalam rangka melaksanakan prinsip kerja sama itu, setiap penutur harus mematuhi 4 maksim percakapan (converstational maxim), yakni maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas(maximof quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim or manner) (Grice, 1975:45-47; Parker, 1986:23; Wardaugh, 1986: 202; Sperber & Wilson, 1986: 33-34).
A.    Maksim Kuantitas
-Tetangga saya hamil
-Tetangga saya yang perempuan hamil
B. Maksim kualiatas
      - Guru : Coba kamu Andi, apa ibu kota Bali?
      -Guru   : Bagus, kalau begitubegitu ibu kota Jawa Timur Denpasar, ya?
C. Maksim Relevansi
      - Pak ada tabrakan motor lawan truk di pertigaan depan.
      - Yang menang apa hadiahnya?
D. Maksim Pelaksanaan
      - Masak peru ibu kotanya lima… Banyak amat>
      - Bukan jumlahnya, tapi namanya.
            Grice (1975: 47-48) membuat analogi bagi kategori-kategori maksim percakapannya sebagai berikut:
1.      Maksim kuantitas. Jika anda membantu saya memperbaiki mobil, saya mengharapkan kontribusi anda tidak lebih atau tidak kurang dari apa yang saya butuhkan. Misalnya, jika pada tahap tertentu saya membutuhkan empat obeng, saya mengharapakan anda mengambilkan saya empat bukannya dua atau enam.
2.      Maksim kualitas. Saya mrngharapkan konteribusi anda sungguh-sungguh, bukannya sebaliknya. Jika saya membutuhkan gula sebagai adonan kue, saya tidak mengharapkan anda memberikan saya garam. Jika saya membutuhkan sendok, saya tidak mengharapakan anda mengambilkan sendok-sendokan, atau sendok karet.
3.      Maksem revansi. Saya mengharapakan kontribusi teman kerja saya sesuai degan apa yang saya butuhkan pada setiap tahapan transaksi. Jika saya mencampukan bahan-bahan adonan kue, saya tidak megaharapkan diberikan buku yang bagus, atau bahan kain oven wlaupun benda yang terakhir ini saya butuhkan pada tahapan berikutnya.
4.      Maksim cara. Saya mengharapkan tema kerja saya memahami kontribusi yang harus dilakukan secara rasional.
Leech (1989:8) mengomentari maksim itu sebagai kendala di dalam berbaha-sa. Maksim-maksim itu berlaku secara berbeda dalam konteks-konteks penggunaan bahasa yang berbeda. Maksim berlaku dalam tingkatan berbeda dan tidak ada prinsip yang berlaku secara mutlak, atau sebaliknya tidak berlaku sama sekali. Maksim dapat berlawanan satu sama lain dan dapat dilanggar tanpa meniadakan jenis tindakan yang dikendalikan. Leech (1989:80) berkomentar bahwa justru karena hal itulah diperlukan adanya sosiopragmatik untuk menjelaskan bagaimana masyarakat yang berbeda menggunakan maksim tersebut.
              Leech (1989:80) berpendapat bahwa PK dibutuhkan untuk memudahkan pen-jelasan hubungan antara makna dan daya. Penjelasan demikian sangat memadai, khususnya untuk memecahkan masalah yang timbul di dalam semantik yang menggu-nakan pendekatan berdasarkan kebenaran. Akan tetapi, PK itu sendiri tidak mampu menjelaskan mengapa seseorang sering menggunakan cara yang tidak langsung di dalam menyampaikan maksud. PK juga tidak dapat menjelaskan hubungan antara makna dan daya dalam kalimat nondeklaratif. Untuk mengatasi kelemahan itu, Leech mengajukan prinsip lain di luar PK, yang dikenal dengan Prinsip Sopan Santun (PS).

2.3.1  Prinsip Sopan santun
                   Setelah mengemukakan keempat maksim kerjasama, Grice (1991:308) juga menyebutkan adanya aturan lain yang bersifat sosial, estetis, dan moral yang biasanya diikuti orang dalam melakukan percakapan. Misalnya, ‘Anda harus sopan’ yang kemudian juga dapat melahirkan IP. Aturan kesopanan itu oleh Leech dinilai tidak setingkat dengan maksim PK dan dapat ditambahkan saja ke dalam empat maksim Grice. Aturan itu merupakan dasar pemakaian bahasa tersendiri, yang disebut prinsip Sopan Santun (PS).
              Leech (1989:132) selanjutnya mengemukakan selengkapnya PS yang meliputi enam maksim. Keenam maksim beserta submaksimnya adalah sebagai berikut.
              1) Maksim Kearifan (tact maxim)
                   a. Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin.
                   b. Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.
              2) Maksim Kedermawanan (generosity maxim)
                   a. Buatlah keuntungan sendiri sekecil mungkin.
                   b. Buatlah kerugian sendiri sebesar mungkin.
              3) Maksim Pujian (approbation maxim)
                   a. Kecamlah orang lain sedikit mungkin.
                   b. Pujilah orang lain sebanyak mungkin.
              4) Maksim Kerendahan Hati (modesty maxim)
                   a. Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin.
                   b. Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.
              5) Maksim Kesepakatan (agreement maxim)
 a. Usahakan agar ketidaksepakatan antara diri dan orang lain terjadi sedikit mungkin
b. Usahakan  agar  kesepakatan antara diri dan orang lain terjadi sebanya  mungkin.
              6) Maksim Simpati (sympathy maxim)
                   a. Kurangilah rasa antipati antara diri dan orang lain sebanyak mungkin.
                   b. Tingkatkan rasa simpati diri terhadap orang lain setinggi mungkin.
              Terhadap setiap maksim, Leech memberikan keterangan bagaimana hubungan antara maksim dan ilokusi. Maksim kearifan dan kedermawanan berlaku dalam ilokusi impositif dan komisif, maksim pujian dan kerendahan hati dalam ilokusi ekspresif dan asertif, dan maksim kesepakatan dan simpati hanya dalam ilokusi asertif.
              PS tidak hanya dianggap sebagai prinsip yang sekadar ditambahkan saja pada PK, tetapi lebih jauh dari itu, PS diperlukan untuk melengkapi PK dalam mengatasi kesulitan. PS diperlukan karena PK tidak dapat menerangkan mengapa orang sering berbicara tidak langsung di dalam menyampaikan pesan. Selain itu, PK tidak dapat menerangkan bagaimana hubungan antara makna dan daya dalam kalimat-kalimat yang bukan pernyataan.
              Tentang PK dan PS, Nababan (1987:34) mengemukakan bahwa kedua prinsip yang menghasilkan IP itu dalam pergaulan sosial sama-sama bekerja. Dalam suatu situasi, PS lebih dominan, tetapi dalam situasi lain, PK lebih dominan untuk menen-tukan apa yang sewajarnya diucapkan oleh Pn dan mengarahkan bagaimana seharus-nya Mt menginterpretasikan suatu tuturan yang diucapkan oleh Pn.















BAB III
METODOLOGI
3.1  Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif Kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang sifat-sifat individu, keadaan, gejala dari kelompok tertentu yang dapat diamati (Moleong, 1994:6) via guru-umarbakri.blogspot.com.
Dalam hal ini  peneliti tidak hanya membaca dan mendeskripsikan (memaparkan atau menggambarkan dengan kata-kata secara jelas dan terperinci) Novel  Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El shirazy tetapi peneliti juga memahami terlebi dahulu latar belakang penulis,  kemudian dilanjutkan dengan menganalisis teks novel yang mengandung Implikatur percakapan atau makna yang tersirat.

3.2  Sumber  Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber data primer dan data sekunder (via Coretan si Cuplis.data dan analisis data.cuplis.net/2009/04/07/). Sumber data primer merupakan sumber yang langsung memberikan data kepada peneliti. Sumber data primer dalam hal ini adalah teks Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El shirazy. Karena Novel Ketika Cinta Bertasbih adalah suatu karya yang inspiratif serta banyak mengandung pesan moral, khususnya dalam bidang kabahasaan dan makna.  Sementara data sekunder  (data pendukung) adalah buku-buku yang membahas implikatur percakapan.


3.3  Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah pencatatan peristiwa-peristiwa atau hal-hal atau keterangan-keterangan atau karakteristik-karakteristik sebagian atau seluruh elemen populasi yang akan menunjang atau mendukung penelitian via Coretan Si Cuplis.data dan analisis data. cuplis.net/2009/04/07/. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Karena peneliti hanya mengambil data yang mengandung implikatur percakapan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih.

3.4  Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses pengaturan urutan data mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. (Patton 1980 dalam Coretan Si Cuplis.data dan analisis data. cuplis.net/2009/04/07/). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik kualitatif karena Dalam hal ini  peneliti terlebih dahulu membaca dan mendeskripsikan (memaparkan atau menggambarkan dengan kata-kata secara jelas dan terperinci) Novel  Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El shirazy lalu menganalisis teks novel yang mengandung Implikatur percakapan atau makna yang tersirat.
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menganalisis data adalah sebagai berikut.
(1)   Membaca secara berulang novel yang ada
(2)   Mencari dialog-dialog yang terdapat dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih.
(3)   Menandai kalimat atau dialog yang mengandung makna Implikatur
(4)   Mencatat kalimat yang mengandung Implikatur dalam dilog tokoh pada Novel Ketika Cinta Bertasbih.
(5)   Menganalisis penggunaan implikatur percakapan yang terdapat dalam novel Ketika Cinta Bertasbih.

3.5  Langkah-langkah penelitian
(1)   Menyiapkan data yang berfungsi untuk menuliskan data-data yang diperoleh terkait dengan Implikatur Percakapan.
(2)   Menyeleksi data dalam novel untuk mengambil data yang mengandung implikatur. Tindak tutur dan prinsip kerja sama dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-shirazy.
(3)   Memberikan deskripsi terkait apa saja yang ditemukan dalam Novel Novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-shirazy.
(4)   Menarik kesimpulan.
(5)   Pengabsahan (pengesahan)









3.6  Waktu Penelitian
No

Kegiatan
Bulan
Jun
Jul
Agus
Sep
Oktbr
Nop
Des
Jan
Feb

1
Pengajuan Judul





































2
Penyusunan proposal





































3
Membaca Novel KCB





































4
Pelaksanaan penelitian





































5
Menulis laporan penelitian





































6
Hasil penelitian






































                        













BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari analisis ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu 1) implikatur percakapan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih menggunakan berbagai tindak tuturan yaitu Tindak tutur langsung, tak langsung, literal, tidak literal, lokusi, ilokusi dan perlokusi. 2) Fungsi tindak tutur yang digunakan dalam Novel Ketika Cinta Bertasbih, yaitu fungsi untuk menyarankan, menyatakan, menjelaskan, menolak, meminta/memohon, memerintah, member nasehat, bertanya, menawarkan, memuji, marah, dan bergurau. Fungsi yang paling dominan adalah fungsi untuk ‘memerintah’, 3). penyimpangan terhadap prinsip kerja sama yang paling banyak ditemukan adalah penyimpangan terhadap maksim kualitas dan maksim pelaksanaan.
5.2 Saran
Berdasarkan simpulan hasil penelitian diatas, peneliti memberikan saran yaitu:
1.      Bagi guru, penelitian ini diharapkan bisa menjadi  bahan ajara khususnya dalam bidang Implikatur percakapan.
2.      Bagi Universitas, sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam upaya meningkatkan kualitas belajar mengajar agar tercapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan.




DAFTAR PUSTAKA
guru-umarbakri.blogspot.com.Implikatur diakses 30 November 2011 pukul 3.33
Wijana P. Rohmadi M. 2009.Analisis Wacana Pragmatik.Yuma Pustaka: Surakarta
Hidayat D. 2001. Analisi Wacana.Lkis: Yogyakarta
Achmadadieb.wordpress.com.Hubungan Sastra dan Masyarakat diakses 02 Desember 2011pukul 01.00
Tarigan, H. Guntur. 1993. Pengajaran pragmatic, Bandung: Angkasa
Djajasudarma, T. Fatimah. 1993.Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian, Bandung: PT Erisco
guru-umarbakri.blogspot.com/2009/08/kajian_17.html.diakses 10 November 2010 jam 11.32
dhanydamopolii.wordpress.com.Makalah Metode Penelitian Sastra. Diakses 04 Desember 2011 pukul jam 23.43
artikata.com/arti-362668-mendeskripsikan.htmldiakses 26 November 2011
Coretan Si Cuplis.data dan analisis data. cuplis.net/2009/04/07/
teguhwirwan.blogdetik.com.


1 komentar:

Amri mengatakan...

pk, apakh sy bisa minta softcopy nya bab 4?
bwat referensi sy, soalnya mau bahas implikatur novel jg

Poskan Komentar